23 Sep 2026 Humas Post Dibaca 11 kali

Ternate Sebagai Kota Multikultural; Tiga Dosen Ilmu Sejarah Unkhair Bedah Sejarah dan Realitas Sosial di RRI Ternate

Ternate Sebagai Kota Multikultural; Tiga Dosen Ilmu Sejarah Unkhair Bedah Sejarah dan Realitas Sosial di RRI Ternate

TERNATE, Ternate sejak masa lampau dikenal sebagai salah satu pusat peradaban penting di Nusantara yang memiliki daya tarik global. Berangkat dari dinamika historis tersebut, tiga dosen Program Studi Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Khairun (Unkhair), hadir sebagai narasumber dalam dialog interaktif di RRI Ternate untuk membedah tema "Ternate sebagai Kota Multikultural", Rabu,.23 September 2026

Diskusi mendalam ini mengupas perjalanan panjang Ternate dari era pemukiman awal, pembentukan kampung-kampung etnis di masa kolonial, hingga wajah Ternate di era kekinian yang tetap harmonis di tengah keragaman.

Dalam paparannya, Pheres Sunu Widjayengrono menyoroti fase awal terbentuknya kehidupan sosial di Ternate. Ia menjelaskan bahwa posisi strategis Ternate sebagai penghasil rempah-rempah dunia telah menarik berbagai bangsa datang ke pulau ini sejak ratusan tahun lalu. Interaksi antara penduduk lokal dengan para pedagang asing dari Nusantara, Asia, hingga Eropa meletakkan fondasi dasar bagi terbentuknya masyarakat yang terbuka dan majemuk.

Sementara itu, Jainul Yusup memfokuskan pembahasannya pada penataan ruang sosial oleh pemerintah kolonial Belanda. Ia menjelaskan bagaimana pemerintah kolonial membentuk dan memetakan kampung-kampung khusus di Ternate berdasarkan kelompok etnis tertentu. Kampung-kampung ini diberikan kepada berbagai pendatang seperti etnis Jawa, Makassar, Buton, Arab, China, hingga kampung Sarani, yang hingga kini jejak historisnya masih dapat dikenali melalui penamaan wilayah dan identitas kultural setempat.

Melengkapi tinjauan historis tersebut, Petra Wahyu Utama membawa diskusi pada konteks Ternate kontemporer. Ia menyoroti bagaimana warisan multikultural masa lalu bertransformasi di tengah arus modernisasi. Menurut Petra, identitas multikultural Ternate hari ini bukan sekadar peninggalan masa lalu, tetapi menjadi modal sosial yang kuat bagi masyarakat modern untuk merawat toleransi dan kerukunan di tengah dinamika perkotaan yang semakin kompleks.

Kehadiran ketiga akademisi Ilmu Sejarah Unkhair ini memberikan penyadaran penting bahwa multikulturalisme di Ternate bukanlah fenomena baru yang datang secara instan. Ia merupakan akumulasi sejarah panjang yang terbentuk melalui proses adaptasi, akulturasi, dan kebijakan sosial dari masa Kesultanan hingga era kolonial.

Komentar yang mengemuka dalam dialog tersebut menegaskan bahwa keberagaman etnis dan budaya di Ternate harus dilihat sebagai kekuatan utama. Kampung-kampung historis yang lahir pada masa lalu terbukti mampu merajut keharmonisan sosial yang diwariskan hingga generasi hari ini, tantangan ke depan adalah bagaimana merawat memori kolektif tersebut agar semangat inklusivitas dan saling menghargai tetap hidup di tengah masyarakat Ternate kekinian.