Mahasiswa Ilmu Sejarah Unkhair Gelar Jelajah Arkeologi Lumpang Batu di Jalur Foramadiahi-Kastela-Rua
Ternate, Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Khairun (Unkhair) hari ini, Sabtu, 26 September 2026, menggelar kegiatan praktikum lapangan yang sarat akan nilai edukasi sejarah dan budaya. Mengusung tema "Jelajah Peninggalan Arkeologi: Eksplorasi Lumpang Batu di Jalur Foramadiahi-Kastela-Rua", kegiatan ini diikuti dengan penuh antusias oleh mahasiswa lintas semester, yakni semester 1, 3, dan 7.
Kegiatan akademik luar kelas ini dipimpin langsung oleh dosen pengampu mata kuliah Pengantar Arkeologi, Dr. Nurachman Iriyanto, M.A. Jalur Foramadiahi hingga kawasan pesisir Kastela dan Rua dipilih karena menyimpan rekam jejak peradaban masa lalu yang sangat kaya, mulai dari era tradisi megalitik hingga masa kolonial.
Di sepanjang jalur tersebut, para mahasiswa diajak untuk mengamati secara langsung temuan-temuan arkeologis, dengan fokus utama pada artefak lumpang batu yang dahulu erat kaitannya dengan aktivitas ritual maupun kehidupan sehari-hari masyarakat prasejarah hingga masa awal transisi kebudayaan di Pulau Ternate.
Perjalanan jelajah dimulai dari kawasan dataran tinggi Foramadiahi yang dikenal sebagai salah satu kampung tua saksi cikal bakal peradaban di Ternate. Di lokasi ini, mahasiswa mendiskusikan fungsi kontekstual dari temuan megalitik seperti lumpang batu yang tersebar di area tapak pemukiman awal.
Eksplorasi kemudian dilanjutkan menyusuri jalur historis menuju kawasan Kastela, yang lekat dengan situs Benteng Gamlamo (Benteng Kastela) peninggalan Portugis, serta berakhir di wilayah Rua, melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya belajar teori di dalam kelas, tetapi juga dilatih melakukan pembacaan situs, teknik pencatatan data arkeologi, serta analisis spasial bentang budaya secara langsung di lapangan.
Ditemui di sela-sela kegiatan, dosen pembimbing lapangan sekaligus pakar arkeologi setempat, Dr. Nurachman Iriyanto, M.A, menyampaikan pandangannya mengenai pentingnya praktikum langsung bagi mahasiswa sejarah.
"Arkeologi bukan sekadar menghafal artefak di atas kertas, tetapi bagaimana mahasiswa mampu membaca konteks ruang dan waktu dari sebuah peninggalan kebendaan. Jalur Foramadiahi-Kastela-Rua ini adalah laboratorium terbuka yang luar biasa. Melalui pengamatan langsung terhadap temuan lumpang batu dan situs-situs pendukungnya, mahasiswa dapat memahami kontinuitas budaya di Ternate, dari masa prasejarah hingga masa kolonial, secara lebih komprehensif dan empiris." Tutur Nurachman
Keterlibatan mahasiswa dari berbagai tingkat semester memberikan warna tersendiri dalam dinamika kelompok selama di lapangan. Kolaborasi antara mahasiswa baru (semester 1) dan senior (semester 3 dan 7) mencipatkan proses transfer pengetahuan yang cair dan interaktif.
Ketua Tingkat Mahasiswa Semester 1 Ilmu Sejarah, Jusnul Hatim, mengungkapkan kesan mendalamnya mewakili rekan-rekan seangkatannya yang baru pertama kali mengikuti kuliah lapangan arkeologi.
"Pengalaman turun langsung ke situs sejarah seperti ini membuka cara pandang baru yang sangat luar biasa. Kami bisa melihat bentuk fisik lumpang batu secara nyata dan memahami bagaimana para leluhur kita hidup di masa lalu. Bimbingan langsung dari Pak Nurachman serta bantuan kakak-kakak tingkat membuat kami lebih cepat mengerti bagaimana cara mengamati situs arkeologi dengan benar di lapangan." Tutur Jusnul Hatim
Melalui kegiatan jelajah arkeologi ini, Prodi Ilmu Sejarah Unkhair berharap para mahasiswa dapat terus mengasah kepekaan pelestarian terhadap warisan budaya, khususnya yang berada di Maluku Utara, serta mampu mengaplikasikannya dalam studi akademik maupun pengabdian kepada masyarakat ke depannya.