19 Sep 2026 Humas Post Dibaca 11 kali

Mahasiswa Ilmu Sejarah FIB Unkhair Bedah Potensi Pulau Hiri Sebagai Kampung Nelayan Berbasis Maritim

Mahasiswa Ilmu Sejarah FIB Unkhair Bedah Potensi Pulau Hiri Sebagai Kampung Nelayan Berbasis Maritim

Ternate, Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Khairun (Unkhair), hari ini Sabtu, 19 September 2026, sukses menggelar kegiatan diskusi akademik, mengangkat tema "Hiri Sebagai Kampung Nelayan", forum ini mengupas tuntas dinamika sosial, sejarah, serta potensi kemaritiman Pulau Hiri yang lekat dengan kehidupan tradisi bahari.

Diskusi yang berlangsung interaktif ini menghadirkan tiga narasumber kompeten, yakni Ketua Program Studi Ilmu Sejarah FIB Unkhair, Lucia Arter Lintang Gritantin, perwakilan mahasiswa Ilmu Sejarah Rifya Rusdi, serta Ketua HMJ Ilmu Sejarah FIB Unkhair, Dandi Umaternate, kegiatan ini dihadiri oleh puluhan mahasiswa yang antusias menggali sudut pandang sejarah lokal terkait identitas Pulau Hiri.

Dalam pemaparannya, Lucia Arter Lintang Gritantin, menyoroti pentingnya melihat Pulau Hiri tidak hanya dari geografisnya saja, melainkan dari rekam jejak historis masyarakatnya yang sejak dulu berdampingan erat dengan laut. Menurutnya, identitas Hiri sebagai kampung nelayan memiliki akar kebudayaan maritim yang kuat dan perlu terus didokumentasikan secara ilmiah.

"Pulau Hiri memiliki memori kolektif dan tradisi bahari yang kaya. Melalui pendekatan sejarah, kita bisa merawat ingatan kolektif tersebut sekaligus menjadikannya basis pengetahuan untuk memahami ketahanan sosial masyarakat pesisir di Maluku Utara," ujar Lucia.

Sementara itu, Rifya Rusdi, membawakan materi seputar kondisi objektif dan tantangan yang dihadapi oleh masyarakat nelayan di Pulau Hiri saat ini. Ia menekankan perlunya keterlibatan generasi muda dalam menjaga keberlanjutan tradisi lokal di tengah arus modernisasi.

"Menjadi kampung nelayan bukan sekadar soal aktivitas menangkap ikan sehari-hari, tetapi tentang bagaimana kearifan lokal, solidaritas sosial, dan pola adaptasi masyarakat Hiri bertahan menghadapi perubahan zaman," ungkap Rifya.

Dari sudut pandang organisasi, Dandi Umaternate, selaku Ketua HMJ Ilmu Sejarah menekankan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk nyata kontribusi mahasiswa dalam merespons isu-isu kerakyatan dan kebudayaan lokal. Diskusi semacam ini diharapkan mampu mengasah kepekaan akademis mahasiswa terhadap realitas sosial di sekitar mereka.

"Sebagai mahasiswa sejarah, sudah kewajiban moral kita untuk turun tangan membaca realitas lokal. Pulau Hiri adalah laboratorium sejarah hidup yang harus kita pelajari dan suarakan potensinya," tegas Dandi.

Melalui forum diskusi ini, civitas akademika Program Studi Ilmu Sejarah FIB Unkhair berharap agar potensi Pulau Hiri sebagai kawasan kampung nelayan mendapatkan perhatian yang lebih komprehensif, baik dari segi pelestarian budaya maritim maupun pemberdayaan masyarakatnya. Kegiatan ditutup dengan sesi tanya jawab interaktif serta komitmen bersama untuk menindaklanjuti hasil diskusi melalui penelitian lapangan lanjutan.